12.3.06

tuhan menguap

sekarang tuhan menguap
menghilang perlahan-lahan
dalam satu per satu tarikan nafas
berubah bentuk
tuhan menggedor pintu dan menyerapah
pada seorang wanita yang berburu babirusa
tuhan bukan manusia
maka tak perlu tahu sopan santun
jam sebelas malam atau jam sembilan pagi
tuhan ya tuhan
berhak atas semuanya
syukurlah, tuhan menguap
aku tak perlu
tuhan yang tak tahu aturan

10.2.06

Spirou, in very loving memory


28 oktober 2002 - 6 januari 2006

maafkan. aku tak lagi bisa
mempertahankanmu. maafkan keterpakuanku pada perih di ujung perutmu.
atau nafas tersengal di ujung mulutmu.
maafkan karena bukan aku yang
di sana ketika kau berpamitan. maafkan bila aku hanya bisa menyeka
butiran air yang berlelehan keluar dari persembunyiannya setiap kali
mereka berceloteh tentangmu. meski mungkin tidak seperih memandang ibu
bapak yang terhanyut air bah. atau rumah warisan yang tertimbun lumpur.
aku memang tidak bisa sehisteris mereka. yang meraung-raung ketika
sadar kau akhirnya bebas. atau marah dan membanting barang-barang
karena kesal tanpa daya. dengan caraku aku mencoba untuk tidak
bertanya. namun, percayalah bahwa aku kehilanganmu.

aku tidak
akan pernah siap kehilanganmu. tetapi kau miliknya. sekarang ia yang
akan merawatmu. lebih baik dari aku. yakinlah. aku telah menitipkan
pesan padanya untuk menggaruk perutmu yang buncit pada malam-malam yang
dingin. juga memelukmu sesekali secara rutin, walaupun mungkin kau
sangat membencinya. seperti yang biasanya kukatakan padamu, ingatlah
bahwa kalau makan kan bisa kapan aja, tapi kalau peluk kan nggak? aku
hanya ingin kau tahu bahwa tidak ada yang ingin menyakitimu. semua
sayang padamu.

aku berterimakasih padanya. meskipun sebentar, ia
sempat mempercayakanmu kepadaku. aku tahu bahwa kau juga akan selalu
ingat padaku. karena aku akan selalu ingat tentangmu. sikap pengecut
dan pesimismu. hentakanmu yang bersemangat pada tubuhku. tampang bad
mood-mu karena tidur siang yang terganggu. pelukan ganjilmu yang
pertama dan terakhir pada mandimu yang terakhir. gigitan pertama dan
terakhirmu di telapak tangan kiriku. luka itu sudah tak sakit lagi.
setidaknya sudah tak sengilu rasa perih di bagian tengah dadaku jika
mengingatmu. aku sangat percaya bahwa ia pasti menjagamu dengan sangat
baik. walau aku akan rindu memeluk tubuhmu yang lembut dan mencium
aroma wangi punggung serta tengkukmu setelah mandi. mungkin suatu saat
aku akan bertemu lagi denganmu. kau akan tersenyum riang dengan bibir
merah muda yang merekah dan hidung pink yang basah. aku akan membawakan
tuna putih yang sangat kau suka. tanpa lalat-lalat. tanpa kutu-kutu dan
pinjal. tanpa erangan. tanpa perih. tanpa batu-batu sialan itu. tanpa
pedih. tetapi, untuk saat ini, aku merelakanmu untuk bersamanya. terima
kasih karena telah mempercayaiku dengan cintamu. aku sudah sangat
merindukanmu.

Spirou, you are free now. May you rest in peace. I love you and really really am missing you.

29.11.05

wallow.. mellow.. do not disturb


Kalau diperkenankan aku akan mencari ahli hipnotis paling hebat.
Lebih canggih dari Romy Rafael. Kusingkirkan semua bekas-bekasnya yang
melekat di otakku. Biarlah semuanya hilang. Aku tidak ingin seperti
Joel. Aku tidak akan memungut kembali kenangan tentang Clementine.
Hidupku bukan film Holywood. Maka tampaknya aku harus mulai
menikmatinya.

Had I been a cow I would’ve had four guts. Thus, I wouldn’t be such a coward I am now.

For
as long as I lived I only loved two persons in this world. My mother
and my grandmother. How? I don’t know. All I know is just by thinking
that I might lose both of them anytime made me miserable. I don’t think
I can manage if they were gone. I don’t want them to leave me.

Nonetheless,
recently I realized I’ve opened another space for a person that has
been a part of my life dearly for the past two years. I never thought
that I’d save this person a room. I know I cared about this person
since the first time we got to know each other. Still, I never planned
to place this person in the same place where my mother and grandmother
were. I’m not that easy in letting people come and go.

This
person deserves more than some sorry wallowing days. This person is
more than a consecutively self-repeated Natalie Cole’s Stardust or
Duncan Sheik’s Humming. I never realized that. At least not until
two weeks ago.

This person had been everything. Muse. Spirit.
Obsession. Passion. Excitement. Ennui. Advisor. Friend. Foe. Mystery.
Candor. Peril. Safety. Subject. Object. Just like my mother and
grandmother. Only better.

Yes. This is about you. I’m sorry.


28.10.05

my crush

When I was just a little girl –as a result of too many Maria dan
September and Black Beauty, I guess– I wanted a pony. I don’t remember
whether it would be male or female, but I think I wanted it to be
brown. I didn’t remember how old I was when I first desired a pony,
though. I remembered that I would talk my mother into buying me a pony.
When she said we don’t have a place to put it. I would say that it can
go in the garage. I didn’t really think that having a pony would mean
feeding, bathing, grooming and bla and bla and bla. And most
importantly, having the money to do all of the above. So, having a pony
remained a dream.

There are times when I really really wanted a
pony. Like when I was in grade five or six I used to cycle around SCTV
with my cousins, uncles and brother. When we went home, we often take
the route where we would pass an area that was known as “patung kuda”
–because there’s this big white horse statue (some say in some nights
it can turn its head *getting goosebumps*)– and somewhere near the
statue there was this little crooked house (didn’t really remember how
the house was) with quite a broad yard (well, it’s not exactly a yard,
it’s more likely to be somewhat a savana, so it’s more like a savana
with a house), and there was this horse that I believe was a pony. The
figure was pony-like. It was grey. The legs were short. It had a big
–not pregnant big– and round tummy. But my uncle called it “kuda
njembling”. Njembling is Javanese for big, round and hanging tummy
mostly cuz it contained water. He believed that it was only a colt and
that it would grow bigger. I believed that it was a pony. Thus, I often
take that route where I could pass that place. Just to see the pony.
Sometimes I even imagine that I would go wild and drop by to caress it
or if I were lucky, ride it. I never did that, though.

As time
went by I sort of forgot about wanting a pony. I got myself some cats
that I really fought for having since my father hated cats. I would
endure painful wound from parting a catfight (a real catfight) just so
I can keep my cats. If my father found out that I was hurt by cats
(even when they weren’t mine) he would throw out my cats. It would made
his point that I wasn’t able to have cats because they were dangerous
creatures. Anyways, I had cats and I forgot about the pony thing.
Mostly because I have no more connection with horsey-porsey. I stopped
watching movies or reading stories on animals because somehow those
stories were sad. I hate to see animals being abused.

Suddenly,
more than ten years later, I remembered that I used to want a pony. I
was watching the second season Apprentice and saw Kelly, one of the
contestant, being given a task to arrange a polo tournament. At first I
didn’t recall my childhood dream of having a pony, but when I saw those
horses on the field, those brown horses, I suddenly remembered. I don’t
know whether I might still want a pony or not, but reminiscing the
memory of me wanting a pony made me smile. One thing I know, when I had
the chance –meaning the money– to own a pony, I would definitely get
one or maybe even a whole herd of ponnies. Just for the sake of feeling
the should’ve, would’ve and could’ve.

I gues when little girls had their first crush on somebody older, I had mine on a pony.

ya, aku mencintaimu

Terima kasih karena telah memperkenalkan kebaikannya kepadaku.
Mengajariku untuk selalu yakin dan bahwa masalah-masalahku ada karena
cintanya. Menunjukkan lewat kesabaran menunggu sebagai bentuk cintamu
padanya. Memilah-milah mendesak, penting dan sepele. Aku tak mengerti
semua itu. Aku selalu ingin tahu apa, mengapa, dan bagaimana. Selalu
memberontak tanpa pernah benar-benar memahami tindakanmu. Nasihatmu.
Dirimu.

Aku paham jika kau lelah mengajakku mencintainya.
Mencintai caranya. Aku mengerti jika kau akan pergi meninggalkanku dan
membiarkanku bertingkah semauku. Aku akan rindu pengingat-pengingatmu
akan cintanya. Aku tidak akan lupa semuanya. Aku menghargai semuanya.
Namun, sementara ini, aku ingin mencintainya dengan caraku sendiri.
Tanpa bantuanmu. Bukan aku tidak membutuhkannya. Atau tak ingin kau
membantuku. Hanya saja aku tidak sepertimu, aku belum seyakin dirimu
bahwa ia cinta padaku. Aku ingin mencintainya sepertimu. Aku ingin
mencintainya karena ia mencintaiku.

Nanti, jika kita kembali
bertemu, semoga memang itu yang seharusnya. Qudrat dan iradatnya.
Semoga saat itu kau telah siap untuk membentangkan sajadahmu di depan
sajadahku. Memimpin takbiratul ikhram hingga salam lima kali sehari
tanpa pernah ingin berhenti. Menuntunku melafadzkan qalqalah yang
benar. Membantuku mengenal tajwid lebih intim. Membenahi hidupku. Aku
berharap jika saat itu tiba, aku telah siap mengikutimu tanpa keluh
kesah. Tak sekedar karena ingin menemanimu mencari ridhonya, tetapi
karena aku juga mencarinya. Jika saat itu tiba, aku ingin kita tidak
hanya bercinta karena kau mencintaiku atau aku mencintaimu. Lebih dari
itu, aku ingin kita bercinta karena kita mencintainya.

Sayangnya, sekarang, aku hanya tahu bahwa aku mencintaimu. Padanya? Entahlah, aku tak yakin.

6.7.05

a blast from the past

How dare you came to me last night
When all you give is nothing but fright
I don’t want to see you ever
Since I have grown much much cleverer
So, here’s the thing I want you to grasp
Get the hell out or I’ll kick your sorry ass!

I
had a nightmare of the person I entirely want to erase from my life. I
don’t even know why on earth did that person pop up last night. That
person didn’t even bother to be nice in my dream (if that
person had been nice, it wouldn’t be a nightmare, now, would it?). They
say a dream is a manifestation of one’s deepest desire, but I have no
desire to reminisce this one. I never want to see this person. I never
want to hear about this person. I never want to talk with this person.
I never want to have anything to do with this person. Never again.

However,
if it is so, why does the voice in my head keep saying, if I really
despise this person so much and want this person out of my life, why am
I scribbling this and then publish it world wide just because one silly
dream after not having any for six years?

whatelse

ketika aku sadar bahwa aku adalah salah satu dari yang mendapat vagina,
aku ingin sekali tertawa-tawa bahagia dan mengulum senyum senang.
namun, bahagia dan senang itu sedikit demi sedikit terkikis dengan serangkaian fakta.
ada
yang berhidung mancung, berbulu mata lentik, berbibir penuh gincu,
berkulit lembut kuning langsat, berambut lurus hitam dan panjang
tergerai, berpinggang gitar serta berlemak jarang, berkutang renda,
ber-rok mini seksi yang didecak kagum, ditahbis cantik, yang bernama
perempuan.
tetapi tetap merasa kurang.
sebab masih ada menunggu,
memasak, mencuci, bertelur, bermenstruasi, berpria, mengistri,
berzigot, berembrio, berjanin, berbayi, menyusui, mengibu, menenek,
membuyut, menjahit, menyulam, merajut dan lagi dan lagi dan lagi dan
lagi dan lagi dan lagi
lalu aku berkaca, tak satupun aku adalah itu semua.
ternyata vagina saja tak cukup.