3.9.08

yang kita pernah

bermula dari kebiasaan rutin membaca kembali imel-imel lama di inbox, saya menemukan sebuah imel lama dari mantan rekan kerja, yang menanyakan status penerima bantuan di salah satu desa di sebuah kecamatan tempat saya pernah tinggal dulu nun jauh di . kemudian entah apa yang merasuki jiwa, saya menulis imel kepada beberapa mantan rekan kerja yang terdekat ketika masih di tempat itu dulu. saya berusaha mengenang masa lalu dengan mereka dengan berbagi hal-hal yang menurut saya cukup atau sangat berkesan. ternyata, meskipun dulu ketika di sana rasanya seperti di neraka –atau minimal di lapas nusakambangan–, saya merasa bahwa mungkin salah satu bagian hidup yang tidak akan pernah ingin saya hapus dalam hidup saya adalah masa-masa ketika di tempat itu.

 

 

lalu, hari ini, di media-media percakapan virtual saya memasang status 'apa kabar pak s******i'. beliau adalah yang imelnya tadi pagi saya temukan. beliau orang jawa yang lama tinggal di makassar yang pilihan katanya sudah sangat makassar tapi logat akan selalu tetap jawa.

 

 

lucunya, banyak rekan lama yang kemudian menyapa (mungkin karena mendapat imel saya dan melihat status itu) dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka sekarang pasca hidup di 'neraka dunia' yang ternyata dirindukan itu. tentu saja disertai gegosipan yang saya lewatkan sejak saya memutuskan angkat kaki dari sana. banyak hal-hal menarik yang saya telah lewatkan. sebagian besar mengejutkan dan membuat saya merasa campur aduk. tapi, yah, mungkin itulah hidup. ceileee.. sok filosofis jadinya.

 

 

buat pembaca yang membaca postingan ini, maaf jika postingan kali ini terlalu internal. saya sedang agak mellow sedikit dan rindu masa muda. dan saya menyalahkan mick jagger untuk itu (dan juga tempat kerja saya sekarang hehe). masak katanya times change but the fascination stays, love wins but the passion just fades? frase pertama masa lalu. frase ke dua hidup saat ini. menohok sekali. sial.

26.8.08

WALL-E

Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Animation
kecuali segi americanism-nya yang sangat kuat, bagi saya, ini salah satu film yang cukup baik dan mendidik. indah. faktual. mengharukan. meski bukan seperti finding nemo.

bagi saya pesan moralnya seperti bait terakhir puisi milik eka budianta di bawah ini, yang berjudul 'tembang pertobatan' (2002):

pencipta langit dan laut yang ramah
pencipta gunung dan sungai-sungai
ajari kami tobat dan berterima kasih
seperti ulat yang sudah menyesal
seperti pohon jati besar yang bertobat
setelah melahap humus, melukai bumi
dan tak peduli pada lain-lain ciptaanMu

now, if you haven't, go educate yourself, watch wall-e

16.6.08

please don't

would somebody be waiting for you back home?
ah! you can't even say my name right. it's tee and ay. with no awr.
shan't one at least try?
one shall. maybe if one weren't born later. yes.
am i not prudent enough?
you certainly will. or maybe you are.
normally a dive for a starfish would have done it.
it did. one just can't drag you into things one has no longer believed in. just so you know,

things are mutual.
 

pour un lever de soleil tôt et d'étoile de mer: merci.
île de samalona
. 080608.

30.5.08

cherry on top: the bitter aftertaste is eternal

i've got more wit, a better kiss, a hotter touch, a better fuck
than any boy you'll ever meet, sweetie you had me
girl I was it, look past the sweat, a better love deserving of
exchanging body heat in the passenger seat?
no, no, no, you know it will always just be me



7.5.08

petaprioritas

uang di ujung gang
lupa diri ini cuma magang
jual hati nutup utang

6.5.08

confession

notes: caution, this post contains material that most likely posted in postsecret webpage.

"i was bullied yesterday. by some of the hotshots of this country. i understand that bullies prefer to poke on the most vulnerable of the pack. they chose me. the youngest of the clan."

it is an irony that we call ourselves humanitarian organisations. somehow, i forgot that being spiteful is very humane. or, accordingly, i must have done worse than worst in my previous life to these people.

my bad, then.

suicidal

setiap kali melalui perempatan itu yang terbayang adalah melintas dengan terburu-buru. berpura-pura tidak tahu bahwa lampu menyala hijau. diam-diam menyerahkan diri kepada moncong-moncong kijang baru atau hidung pesek bis-bis tigaperempat yang berlalu dengan kecepatan penuh mampu menumbuk apapun yang ada di depannya. termasuk penyeberang yang sudah tidak tahu lagi apa yang masih penting. kemudian ia akan terlempar dengan cepat ke aspal yang panas karena sudah tiga hari tidak hujan. rambutnya yang kusam tapi tersisir rapi akan membelai jalanan yang mungkin rapat dengan ludah kondektur bis. kilat-kilat ingatan masa kecil yang naif hingga penyebab ia menjadi mahkluk dewasa yang apatis akan berserakan di pikirannya. seperti keping-keping kaca patri yang meletik-letik dipecahkan orang-orang berotak keruh di sebuah gereja jelek yang pernah dilihatnya di suatu tempat yang kini sudah tak penting lagi. seiring dengan terhempasnya tempurung otaknya ke pinggir trotoar, masa-masa indah dan suram berlompatan bergantian semakin cepat semakin tak jelas. bagaikan adegan-adegan di sebuah film terorisme yang dibintangi dennis quaid yang judulnya tak lagi perlu dipikirkan keras-keras. lebih baik mengingat wajah ibu yang datar namun mahir mengolah mi instan yang karenanya ia mencintainya. tak sampai sedetik cairan-cairan merah segar akan segera mengalir meninggalkan tubuhnya. ia tidak akan sempat menangis. entah apa lagi yang masih bisa dilakukannya. mungkin sekali lagi menarik nafas panjang. untuk membantu melepaskan jiwa yang masai dari raga yang masih layak pakai untuk lebih dari tigapuluh tahun lagi.

sampai sebelum kemarin, ia tidak pernah menemukan alasan yang tepat untuk mewujudkan khayalannya.


-iskandarsyah post, setiap saat sejak itu-