waktu itu pernah, seseorang menunjuk saya dan berkata, 'kamu masih muda, tapi kenapa sudah sebegitu sinisnya?' nyatanya, kalimat itu memang tidak hanya sekali dua kali mampir di kuping. tapi sering. bapak di kantor malah pernah menasehati saya begini, 'if you are my age, i can understand, but you are so young, so many things to look forward to.' biasanya, bila sedang malas, saya hanya mendengus. tapi jika stamina cukup, saya akan menjawab, 'saya menjadi seperti ini bukan dalam sekedipan mata. ada prosesnya.'
ya. saya adalah avid complainer. mengeluh terus. sepanjang hari. sepanjang waktu. mulut ini rasanya tidak berengsel. kalimat-kalimat yang keluar jarang positif. ada saja yang bisa diberatkan. tapi, terserah mau percaya atau tidak, saya tidak peduli, saya bisa bilang bahwa saya adalah pengeluh yang nasionalis. jangan pernah berdebat dengan saya tentang sinisme terhadap
protes-protes pada negara ini waktunya disudahi. kami generasi muda sudah waktunya mulai menemukan solusi. bukan meromantisasi masa lalu kemudian menunjuk pada hidung-hidung para pelaku sejarah yang konon membuat kacau.
terserahlah, orang-orang di masa lalu itu pernah berbuat salah dan sekarang akibatnya semua kena batunya. sampai kapan mau mengutuk. apakah akan berhenti semua serapah. dan yang lebih penting. apa ada bedanya lidah-lidah yang terlalu tajam dengan tangan-kaki-badan yang selalu bergeming.
terus terang, saya juga merasa jijik kepada mereka yang sepertinya tidak pernah berterimakasih kepada bangsanya.
mungkin jika sepatu saya anda pakai, anda akan mengerti mengapa penting bagi saya untuk tidak pesimis dan sinis terhadap negara saya. mengapa sangat mendesak bagi saya untuk tetap percaya bahwa negara ini pasti akan menemukan obatnya.
maaf, teman. mengeluh itu pada tempatnya. jika tentang indonesia. saya menolak menjadi pengeluh.