20.3.05

on a day like today

baru saja lifebuoy shampo turun harga, konon pisau cukur gillete dan obat batuk vicks juga
empat liter sepuluh ribu, lapor seorang supir nol dua sambil tertawa
harga bensin zaman sby kelakar preman pondok labu sambil terpingkal
orang rumah menggerutu, telur di pasar mulai mahal
orasi mahasiswa beberapa pagi yang lalu masih terngiang, tentang korupsi dan subsidi
shampo, silet, obat, bensin, telur, korupsi, subsidi, apa lagi?
haruskah aku urun panik, karna kutahu uang bulanan tak bakalan ikut berisik

saingan

bukan wanita seksi berbusana ketat bahkan bukan wanita cantik berhijab
di hadapku lebih dari itu
seorang perempuan biasa yang menjelma menjadi wanita super
bersenyawa kuat dalam simpul-simpul sarafnya
menafikan maknaku dalam semesta rasanya
aku tak akan mungkin mengunggulinya
jangankan itu, aku mungkin bahkan tak pernah hinggap meski sekejap
maka, dengan susah payah kubenahi semua
dan bersumpah bahwa aku akan berusaha
aku tak akan pernah lagi
mencoba bersenyawa dalam simpul-simpul sarafmu
maupun dengan yang lainnya

19.2.05

in memoriam

kucing betina jelek itu melangkah sembari memandangi rumahku. mungkin
ia heran mengapa hanya ada aku di sini. ya, aku tahu. aku sendirian
sekarang. istriku mati beberapa hari yang lalu. pergilah! ia berlalu.

perempuan
itu memandangi rumahku. bolu kukus dikunyahnya. ia merasa ada yang
aneh. ia melihatku sendiri. aku ingin ia mendekat. sudah lama sekali ia
tak menyapaku. ia mendekati rumahku. ia mencari-cari sesuatu di bagian
atas rumahku. ya, aku tahu. istriku. kau tidak akan menemukannya di
sana. ia mati beberapa hari yang lalu.

kok tinggal satu, ia bertanya.

ya, perempuannya mati sudah lama, jawab wanita yang sedang menyiangi bayam di samping rumahku.

ia
menatapku iba. jangan menatapku seperti itu. aku menatapnya. ia
menyuapkan sepotong kecil bolu kukusnya. aku menyambutnya. sudah lama
kami tidak seperti ini. aku tidak tahu apakah ia menyayangiku atau
bahkan mencintaiku. mungkin dulu, sekarang tidak lagi. aku selalu
menyambut uluran jari-jarinya. aku tidak tahu mengapa dulu istriku
begitu takut padanya. mungkin istriku takut karena ia begitu berbeda.
ia hanya ingin bersahabat dengan kami. ia tidak ingin menyakiti kami.
istriku takut mempercayai itu.

perempuan itu menerawang. ia
kembali menatapku. masih menatapku iba. jangan kau pandangi aku seperti
itu, perempuan. aku tak apa-apa. aku tahu istriku tidak lagi bersamaku.
sumpah, aku sudah tidak bersedih lagi. sepi, memang, tapi si kucing
betina itu masih sering duduk sambil menjilati bulu-bulunya yang
berkutu di depan rumahku. sepasang kura-kura bertempurung hitam itu
juga terkadang menghampiri rumahku meski hanya untuk mendongak. aku
tidak sendirian. asal kau masih setia mengulurkan sesuatu melalui
jari-jarimu itu. sesekali.

being sok sibuk, i didn’t realize that the green lovebird passed away few days ago.

on myth, legend, and hypocrisy

Being on the second day of muharram
He opened a conversation asking about the empress of the south sea
She replied with a story she claimed to be true
I didn’t even bother to set an ear at first
I vaguely caught the earlier part of it
It was in the eighties and on batu hiu pangandaran
When a shark which i more likely to believe as a whale from her description was stranded
People believed that it was the empress’ ride
They were afraid of her and command themselves to obey all the superstitious rules
Yet, they apparently care shit about that poor fish or mammal if it were infact a whale
They slaughtered it and took the meat
Mimi told us that the meat would make a terrific oil
I become more certain that it was a whale
I become all ears and condemned those beasts
I imagine that poor whale hyperventilating while people sliced its body parts
Cruel. Brute. Bastard.
Then a vivid image of me all modern and call crap of all the things i can’t see
digesting baby shark meat that i refer to as delicious but a bit too salty
That was approximately less than two years ago in Jogja
Hmmm...
And the hypocrit would be...

4.2.05

yoohoo!

i’m sick of the mouse scroll button. the joy of browsing on the
internet doesn’t rush my adrenaline anymore. i just don’t feel like
clicking the mouse left button. opening e-mail is no longer fun.
viewing profiles on friendster or posting blogs bored me. i don’t even
want to let my fingers caressing the keyboard.

what i feel like
doing is to lay on your chest. feeling it go up and down in a constant
pace. listening to your heartbeat. inhaling the scent of cool water for
men. putting my arms around your waist. and letting my tears go down my
cheeks and soak your over an age polo shirt. while your chin is placed
on top of my head. your left hand harassing my hair and your right hand
squeezing my left arm. just that without any vocal chords interrupting.
without you even gasping an ‘hmmm...’

this time i want you to
listen to me. i want you to hear me sniff. i want you to feel my grief.
i don’t want you the way you were when i did it while you’re driving. i
don’t want you giving me the
she-needs-her-space-now-and-i’m-just-gonna-let-her-cool-off-beside-i-have-to-pay-attention-on-the-road
scheme. i need you not to ignore me.

i don’t even know why i
put up with you afterall these times. while in fact you’ve been nothing
but thinking about yourself. you know i will always spare an ear, a
mind and a heart for you anytime. i long for the day when you would
really listen to all the things i went through. you don’t have to
comment just listen carefully with your ears, and your mind and your
heart. when you say i don’t understand you, try to understand me.

i’m
sick of the things going on and off of my life. the least thing i could
use is that you got sick of your life, especially of the one concerning
me.

27.1.05

selingkuh


aku tidak pernah membayangkan bahwa pria
berkulit kelam itu akan kembali. sekarang aku menghadapi sebuah cerita
yang semi nyata. bahwa ia adalah seorang lelaki yang sangat menarik.
dialah lelaki dalam khayalan penulis-penulis depresif yang bermasalah.
sebentuk jiwa yang nyata yang tidak hanya mengerti apa itu warna tapi
juga paham dimensi dan paham bagaimana merangkainya hingga mataku
terhibur dengan bayang-bayang yang banyak disebut orang sebagai
bernilai estetika. pikiran-pikiran cerdasnya memuai dalam otakku yang
kosong dan membuai imajinasiku. ia membuatku mengangguk setuju bahwa ia
adalah lelaki yang memaknai tindakan-tindakan berlebihan lebih dalam
dari sekedar bunga mawar lima ribuan seorang lelaki gombal kepada gadis
centil bergaun merah muda.


sayang,
aku tidak bisa memberikan pembenaran, bahkan pada diriku sendiri, jika
aku kembali melayani kehadirannya. aku hanya mampu menarik dan
menghembuskan angin dari cuping-cuping hidungku untuk mengurangi sejuta
‘jika saja.’ tak sedikitpun timbul keberanian untuk semata-mata
membayangkan sebuah ‘ternyata.’ aku hanya bergeming dan bersikap dingin
memandang huruf-huruf yang berderet dalam surat elektronik yang
dikirimnya kepadaku kemarin. aku mengharamkan diriku untuk merasa
senang atas kehadiran benda tersebut karena aku mampu merasakan bahwa
aku tidak ingin seorang aku hadir dan mengkhayalkan lelaki dekil itu
bila sekarang aku yang di sampingnya.

‘he beats you once, and he’ll beat you again!’ -ryan-the oc-




25.1.05

oh, well

Lt. Daniel Kaffee: I want the truth! I deserve the truth!
Col. Nathan R. Jessep: You want the truth?! You can’t handle the truth!
-A Few Good Men-

kejadian 1: menjelang masa-masa umptn 2001, di meja makan
ibu: mau masuk despro? wong KAMU *nggak* bisa nggambar ngono, lho!
saya: (diam saja, kata-kata sebelumnya, mulai terinternalisasi, dalam hati berpikir, emang kali, ya?).

kejadian 2: ruang bimbingan dan konseling salah satu smu negeri terbaik di surabaya
guru: kamu jadi mau ndaftar ui? ndak usah aja, ya? daripada KAMU *susah* nanti di sananya.
saya: oh, ya, bu. ndak jadi juga ndak papa. (tidak membantah, dalam hati menahan dongkol)

kejadian 3: kantin sebuah fakultas di salah satu universitas negeri di jakarta
teman 1 (wanita): kalo lo cewek yang *nggak* cantik tapi enak diajak ngobrol siapa?
teman 2 (laki-laki):DIA! (seraya menunjuk tepat di hidung saya. GEDUMBRANG!).
saya: (pasrah. jeb! shot through the heart and head!) ooooh… (nggak tau harus ngomong apa).
teman 3 (wanita): bo’! lo eksplisit, ya ngomongnya!

kejadian 4: perpustakaan sebuah fakultas di salah satu universitas negeri di jakarta
teman
1 (laki-laki): waktu gw denger lo yang jadi PO GSR, gw dalam hati
bilang, *emang bisa apa*? lo kan *nggak* tahu apa-apa (GUBRAAAAK!).
teman 2 (wanita): (tidak tahu mesti berkomentar seperti apa).
saya: (lagi-lagi pasrah dan hanya bisa tersenyum pasrah)

kejadian 5: sebuah rumah di daerah jakarta selatan
pembantu 1 (wanita): sopo sing ngeterke?
majikan (wanita): adik.
pembantu 1: *iso, tah, adik nyetir*?
majikan (wanita): (diam saja, mungkin dalam hati berpikir dua kali) wis gak usah kakean omong, ndang bukaen lawange! ayo, dik!
saya: (lagi lagi lagi, hanya tersenyum pasrah) ya!
pembantu 1: kono, sri, bukaen lawange!
pembantu 2 (wanita): nggih!

i’m
starting to get used to people doubting of what i’m capable of, and i
can see that some time they’re only saying what crossed on their mind,
but people, people, have a heart, please! it's likely that *i* can't
handle the truth