29.11.05

wallow.. mellow.. do not disturb


Kalau diperkenankan aku akan mencari ahli hipnotis paling hebat.
Lebih canggih dari Romy Rafael. Kusingkirkan semua bekas-bekasnya yang
melekat di otakku. Biarlah semuanya hilang. Aku tidak ingin seperti
Joel. Aku tidak akan memungut kembali kenangan tentang Clementine.
Hidupku bukan film Holywood. Maka tampaknya aku harus mulai
menikmatinya.

Had I been a cow I would’ve had four guts. Thus, I wouldn’t be such a coward I am now.

For
as long as I lived I only loved two persons in this world. My mother
and my grandmother. How? I don’t know. All I know is just by thinking
that I might lose both of them anytime made me miserable. I don’t think
I can manage if they were gone. I don’t want them to leave me.

Nonetheless,
recently I realized I’ve opened another space for a person that has
been a part of my life dearly for the past two years. I never thought
that I’d save this person a room. I know I cared about this person
since the first time we got to know each other. Still, I never planned
to place this person in the same place where my mother and grandmother
were. I’m not that easy in letting people come and go.

This
person deserves more than some sorry wallowing days. This person is
more than a consecutively self-repeated Natalie Cole’s Stardust or
Duncan Sheik’s Humming. I never realized that. At least not until
two weeks ago.

This person had been everything. Muse. Spirit.
Obsession. Passion. Excitement. Ennui. Advisor. Friend. Foe. Mystery.
Candor. Peril. Safety. Subject. Object. Just like my mother and
grandmother. Only better.

Yes. This is about you. I’m sorry.


28.10.05

my crush

When I was just a little girl –as a result of too many Maria dan
September and Black Beauty, I guess– I wanted a pony. I don’t remember
whether it would be male or female, but I think I wanted it to be
brown. I didn’t remember how old I was when I first desired a pony,
though. I remembered that I would talk my mother into buying me a pony.
When she said we don’t have a place to put it. I would say that it can
go in the garage. I didn’t really think that having a pony would mean
feeding, bathing, grooming and bla and bla and bla. And most
importantly, having the money to do all of the above. So, having a pony
remained a dream.

There are times when I really really wanted a
pony. Like when I was in grade five or six I used to cycle around SCTV
with my cousins, uncles and brother. When we went home, we often take
the route where we would pass an area that was known as “patung kuda”
–because there’s this big white horse statue (some say in some nights
it can turn its head *getting goosebumps*)– and somewhere near the
statue there was this little crooked house (didn’t really remember how
the house was) with quite a broad yard (well, it’s not exactly a yard,
it’s more likely to be somewhat a savana, so it’s more like a savana
with a house), and there was this horse that I believe was a pony. The
figure was pony-like. It was grey. The legs were short. It had a big
–not pregnant big– and round tummy. But my uncle called it “kuda
njembling”. Njembling is Javanese for big, round and hanging tummy
mostly cuz it contained water. He believed that it was only a colt and
that it would grow bigger. I believed that it was a pony. Thus, I often
take that route where I could pass that place. Just to see the pony.
Sometimes I even imagine that I would go wild and drop by to caress it
or if I were lucky, ride it. I never did that, though.

As time
went by I sort of forgot about wanting a pony. I got myself some cats
that I really fought for having since my father hated cats. I would
endure painful wound from parting a catfight (a real catfight) just so
I can keep my cats. If my father found out that I was hurt by cats
(even when they weren’t mine) he would throw out my cats. It would made
his point that I wasn’t able to have cats because they were dangerous
creatures. Anyways, I had cats and I forgot about the pony thing.
Mostly because I have no more connection with horsey-porsey. I stopped
watching movies or reading stories on animals because somehow those
stories were sad. I hate to see animals being abused.

Suddenly,
more than ten years later, I remembered that I used to want a pony. I
was watching the second season Apprentice and saw Kelly, one of the
contestant, being given a task to arrange a polo tournament. At first I
didn’t recall my childhood dream of having a pony, but when I saw those
horses on the field, those brown horses, I suddenly remembered. I don’t
know whether I might still want a pony or not, but reminiscing the
memory of me wanting a pony made me smile. One thing I know, when I had
the chance –meaning the money– to own a pony, I would definitely get
one or maybe even a whole herd of ponnies. Just for the sake of feeling
the should’ve, would’ve and could’ve.

I gues when little girls had their first crush on somebody older, I had mine on a pony.

ya, aku mencintaimu

Terima kasih karena telah memperkenalkan kebaikannya kepadaku.
Mengajariku untuk selalu yakin dan bahwa masalah-masalahku ada karena
cintanya. Menunjukkan lewat kesabaran menunggu sebagai bentuk cintamu
padanya. Memilah-milah mendesak, penting dan sepele. Aku tak mengerti
semua itu. Aku selalu ingin tahu apa, mengapa, dan bagaimana. Selalu
memberontak tanpa pernah benar-benar memahami tindakanmu. Nasihatmu.
Dirimu.

Aku paham jika kau lelah mengajakku mencintainya.
Mencintai caranya. Aku mengerti jika kau akan pergi meninggalkanku dan
membiarkanku bertingkah semauku. Aku akan rindu pengingat-pengingatmu
akan cintanya. Aku tidak akan lupa semuanya. Aku menghargai semuanya.
Namun, sementara ini, aku ingin mencintainya dengan caraku sendiri.
Tanpa bantuanmu. Bukan aku tidak membutuhkannya. Atau tak ingin kau
membantuku. Hanya saja aku tidak sepertimu, aku belum seyakin dirimu
bahwa ia cinta padaku. Aku ingin mencintainya sepertimu. Aku ingin
mencintainya karena ia mencintaiku.

Nanti, jika kita kembali
bertemu, semoga memang itu yang seharusnya. Qudrat dan iradatnya.
Semoga saat itu kau telah siap untuk membentangkan sajadahmu di depan
sajadahku. Memimpin takbiratul ikhram hingga salam lima kali sehari
tanpa pernah ingin berhenti. Menuntunku melafadzkan qalqalah yang
benar. Membantuku mengenal tajwid lebih intim. Membenahi hidupku. Aku
berharap jika saat itu tiba, aku telah siap mengikutimu tanpa keluh
kesah. Tak sekedar karena ingin menemanimu mencari ridhonya, tetapi
karena aku juga mencarinya. Jika saat itu tiba, aku ingin kita tidak
hanya bercinta karena kau mencintaiku atau aku mencintaimu. Lebih dari
itu, aku ingin kita bercinta karena kita mencintainya.

Sayangnya, sekarang, aku hanya tahu bahwa aku mencintaimu. Padanya? Entahlah, aku tak yakin.

6.7.05

a blast from the past

How dare you came to me last night
When all you give is nothing but fright
I don’t want to see you ever
Since I have grown much much cleverer
So, here’s the thing I want you to grasp
Get the hell out or I’ll kick your sorry ass!

I
had a nightmare of the person I entirely want to erase from my life. I
don’t even know why on earth did that person pop up last night. That
person didn’t even bother to be nice in my dream (if that
person had been nice, it wouldn’t be a nightmare, now, would it?). They
say a dream is a manifestation of one’s deepest desire, but I have no
desire to reminisce this one. I never want to see this person. I never
want to hear about this person. I never want to talk with this person.
I never want to have anything to do with this person. Never again.

However,
if it is so, why does the voice in my head keep saying, if I really
despise this person so much and want this person out of my life, why am
I scribbling this and then publish it world wide just because one silly
dream after not having any for six years?

whatelse

ketika aku sadar bahwa aku adalah salah satu dari yang mendapat vagina,
aku ingin sekali tertawa-tawa bahagia dan mengulum senyum senang.
namun, bahagia dan senang itu sedikit demi sedikit terkikis dengan serangkaian fakta.
ada
yang berhidung mancung, berbulu mata lentik, berbibir penuh gincu,
berkulit lembut kuning langsat, berambut lurus hitam dan panjang
tergerai, berpinggang gitar serta berlemak jarang, berkutang renda,
ber-rok mini seksi yang didecak kagum, ditahbis cantik, yang bernama
perempuan.
tetapi tetap merasa kurang.
sebab masih ada menunggu,
memasak, mencuci, bertelur, bermenstruasi, berpria, mengistri,
berzigot, berembrio, berjanin, berbayi, menyusui, mengibu, menenek,
membuyut, menjahit, menyulam, merajut dan lagi dan lagi dan lagi dan
lagi dan lagi dan lagi
lalu aku berkaca, tak satupun aku adalah itu semua.
ternyata vagina saja tak cukup.

16.6.05

romantisme pabrikan

aku memang belum menemukannya
ia yang memberikan sebelah rusuknya untukku
jika mitos itu bukan bualan
tetapi
aku hanya ingin ia nanti membuat kami seperti kalian
yang meskipun kadang-kadang bertikai tentang materi
atau kebiasaan yang mengganggu
namun cukup menyamankan perasaanku
dan membuat sepasang mataku sejuk
saat kau mencuci baju kami semua
dan dia menemani
atau ketika dia bercerita
dan kau menimpalinya dengan antusias
semuanya selayak sepasang sahabat lama
yang segalanya mungkin lebih dari sekadar kebetulan yang menyenangkan
meskipun kalian tidak bertemu di sebuah bistro mewah di manhattan
yang mempertemukan jonathan dan sara
namun cukup di sebuah kos-kosan murah
ketika ia hanya seorang mahasiswa miskin
sedangkan yang satunya pegawai negeri rendahan
mungkin aku tidak akan pernah mengerti mengapa atau bagaimana
hanya jika saja nantinya aku di sana
aku akan tahu
mengapa dorothy loves jerry for the man he wants to be
and for the man he almost is
dan semoga ia akan do the dishes in our kitchen sink
and put me to bed when i had too much to drink
dan kami akan sama-sama
mengetahui our highest high and lowest low
supaya we know each other like we know ourselves inside out
kemudian kami akan selalu on each other’s back
sehingga things just won’t do without each other
dan those will be the moments we thank god that we’re alive
which we could not ask for more
kami akan saling mencintai dengan sederhana
walaupun tidak harus seperti kata-kata
yang tak sempat diucapkan oleh kayu
kepada api yang menjadikannya abu
yah, jika masa itu tiba
jika suatu saat aku harus
aku hanya tak ingin terjebak
dalam hubungan imajiner seorang individu terhadap kondisi sebenarnya
aku cuma ingin seperti mereka
yang melakukannya untuk menyelesaikan masalah
bukan untuk mencari masalah
itu saja.

13.6.05

inikah internasionalisasi?

sekali lagi aku meringis kecewa kepada mereka
yang konon pintar
mengapa harus kita yang beranjak ke luar
siapa lagi yang akan tinggal
apakah nanti aku akan tinggal sendiri di sini
merenta dan bertambah bodoh serta apatis
seraya mendendangkan “you all don’t know what it’s like being male middle class and white” sebagai pembenaran atas pembodohan
dan mencibir pada “40 tahun mengabdi, jadi guru jujur berbakti memang makan hati” karena muak pada kenyataan
mengapa harus selalu amerika inggris jepang prancis dan entah apa lagi
mereka sudah memiliki veto
masihkah mereka memerlukan keterpasrahan kita
apa gunanya mempelajari nasionalisme dan falsafah negara di PDPT
jika hanya membuat kita pontang-panting dengan ketidaksanggupan
sampai kapan kita akan menjadi kuli bermandor dollar
tahukah bahwa feminis di sana kadang tidak paham tentang filosofi jilbab
sadarkah bahwa di Yale kajian Sumeria adalah dampak Perang Minyak
ingatkah kita akan sampah yang menggunung dan wabah laten
kita lebih perlu kajian Bantargebang atau Keputih atau Polio atau Tentana
UI, UGM dan Unair lebih pantas membuat kajian Badui atau Tengger
kapan kita akan bersemangat Diponegoro dan melupakan Che Guavara
akankah suatu saat masa muda kita diisi Tohpati dan bukan Joe Satriani
kemana perginya Deddy Dhukun, Odie Agam atau Dian Pramana Putra
mengapa hanya ada Avril, Mandy atau
mungkinkah kita merasa bangga dan puas hanya dengan konser Sunyahni
dan meninggalkan hingar bingar konser Java
mengapa modern adalah seteguk vanilla frappucino Starbucks diiringi Jack Johnson
mengapa bukan sesruput kopi Singa diiringi Didi Kempot
kenapa McDonalds lebih laku padahal Nyonya Suharti lebih seksi
sebelum menjadi benar-benar tidak peduli
aku akan terus bermimpi tentang suatu masa
bahwa Harvard akan mengais-ngais belas dari UI demi selembar MOU
bahwa alumni ITS lah yang akan membangun semua gedung hebat di dunia
dan membuat semua orang lupa bahwa gedung Dharmala hasil karya alumni MIT
bahwa dokter-dokter dari UI akan menemukan serum pembawa kebahagiaan
dan menyingkirkan prestasi dokter-dokter dari Cambridge
bahwa bahasa Indonesia akan menjadi bahasa antar galaksi
dan menggeser bahasa Inggris yang hanya mampu menjadi bahasa internasional
bahwa para pejabat UI akan mengenal lebih jauh siapa itu Pak Dowi dan Mas Dani
bahwa Pak Juhari atau Heri tidak perlu menjilat pada para pejabat UI
bahwa tidak perlu lagi ada pagar antara mahasiswa dan dosen dan pejabat
bahwa tidak harus ada lagi istilah ekonomi kerakyatan
karena Pak Marsah sanggup makan siang di Chopstix dan Pak Usman mau makan tongseng di KanSas
bahwa suatu hari panutan kami bukan lagi Hellen Keller atau Stephen Hawkings atau Salvador Dali
karena kami akan lebih kagum pada Mbah Masmundari atau Cak Kartolo dan Cak Sapari atau Romo Mangun
sambil bermaimpi aku akan terus bertanya-tanya
masihkah Pancasila meninggalkan nasionalisme
pada kita semua yang ingin internasionalisme